Media Asing Soroti Kematian Pengemudi Ojol dalam Demo Jakarta
Halo, selamat datang. Kamu pasti penasaran banget, kan, gimana media internasional meliput demo besar yang mengguncang Jakarta di bulan Agustus 2025? Peristiwa ini memang bukan sekadar demo biasa. Ini adalah rentetan aksi yang bermula dari kemarahan publik atas kenaikan tunjangan DPR, yang kemudian memuncak dengan tragedi yang merenggut nyawa seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan. Kisah ini menyedot perhatian dunia, dan media-media raksasa seperti Al Jazeera, Reuters, BBC, hingga The New York Times ramai-ramai memberitakannya.

Awal Mula Api Kemarahan: Tunjangan DPR yang Memicu Protes
Demonstrasi yang terjadi di Jakarta pada bulan Agustus 2025 ini berawal dari satu pemicu yang sederhana namun sangat sensitif: keputusan pemerintah menaikkan tunjangan anggota DPR RI. Bayangkan, di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, di mana harga-harga kebutuhan pokok seperti beras dan pendidikan masih tinggi, para wakil rakyat justru mendapat tambahan tunjangan perumahan sebesar Rp 50 juta per bulan. Sebuah angka yang jauh di luar nalar bagi sebagian besar masyarakat. Angka ini hampir sepuluh kali lipat dari Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta di tahun 2025. Kontras yang sangat tajam inilah yang memantik kemarahan publik.
Aksi protes pertama kali meletus pada 25 Agustus 2025. Ribuan mahasiswa, buruh, dan masyarakat sipil membanjiri jalanan di sekitar Gedung DPR/MPR. Mereka membawa spanduk-spanduk dengan tulisan yang begitu tajam, menuntut pembubaran parlemen. Demonstrasi ini pun tak berjalan mulus. Bentrokan tak terhindarkan, dan aparat keamanan meresponsnya dengan gas air mata dan semprotan meriam air. Media asing seperti Reuters, The Edge Malaysia, dan Channel NewsAsia segera melaporkan kejadian ini. Mereka menyoroti bentrokan antara polisi dan demonstran, serta menempatkan isu ketimpangan gaji dan tunjangan sebagai inti dari permasalahan.
Gelombang Kedua Protes dan Kematian yang Mengubah Segalanya
Alih-alih meredam, api kemarahan justru semakin membara. Pada 28 Agustus, aksi protes kembali terjadi. Kali ini, jumlah massa jauh lebih besar. Ribuan orang, termasuk di antaranya pengemudi ojek online, bergabung dalam barisan demonstran. Mereka menuntut tidak hanya pembatalan tunjangan DPR, tapi juga reformasi total dan peninjauan ulang kebijakan yang dianggap tidak pro-rakyat. Bentrokan yang terjadi pada hari itu lebih parah dari sebelumnya. Demonstran melemparkan batu dan petasan, sementara polisi memperketat pengamanan dan menutup akses jalan.
Di tengah kekacauan ini, sebuah peristiwa tragis terjadi. Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, tewas terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob saat ia hendak pulang. Tragedi ini bukan sekadar insiden, ini adalah titik balik yang mengubah narasi demo dari protes ekonomi menjadi tuntutan keadilan dan kemanusiaan. Kematian Affan menjadi simbol dari kebrutalan aparat dan harga mahal yang harus dibayar oleh rakyat biasa dalam perjuangan mereka.
Reaksi Dunia: Media Asing Menyuarakan Tragedi Jakarta

Kematian Affan Kurniawan adalah berita yang terlalu penting untuk dilewatkan oleh media asing. Dalam hitungan jam, kabar ini menyebar ke seluruh dunia dan menjadi tajuk utama. Berbagai media besar pun melaporkan peristiwa ini dengan sudut pandang yang berbeda, namun dengan satu kesamaan: menyoroti ketidakstabilan sosial dan politik di Indonesia.
- Al Jazeera: Media asal Qatar ini menyoroti dengan tajam kelanjutan protes setelah kematian Affan. Mereka tidak hanya memberitakan tuntutan keadilan, tapi juga mengupas tuntas isu-isu ekonomi yang lebih dalam, seperti upah, pajak, dan desakan untuk mencabut tunjangan politisi. Al Jazeera juga memberikan ruang bagi komentar pengamat, termasuk dari Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, yang menyebutkan bahwa kemarahan publik juga dipicu oleh kebrutalan aparat yang sudah berlangsung lama.
- The New York Times: Surat kabar terkemuka dari Amerika Serikat ini menulis bahwa demonstrasi yang berlangsung berhari-hari ini dipicu oleh dua masalah utama: pengangguran dan inflasi. Mereka menempatkan isu ini dalam konteks yang lebih luas, yaitu ketidakpuasan publik terhadap biaya hidup yang tinggi di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
- BBC International: Media asal Inggris ini melaporkan protes yang meluas di seluruh Indonesia, tidak hanya di Jakarta. Mereka menyoroti gelombang solidaritas yang muncul setelah kematian Affan, di mana para pengemudi ojek online di berbagai kota, seperti Solo, Yogyakarta, dan Surabaya, juga ikut turun ke jalan. Laporan mereka menekankan pada dampak sosial dari tragedi ini.
- Channel NewsAsia (CNA): Media dari Singapura ini bahkan membuat sesi siaran langsung khusus dengan judul yang mencengangkan: "Polisi Indonesia luncurkan gas air mata ke pedemo di Jakarta." Mereka menyoroti secara spesifik respons represif aparat dalam menghadapi demonstran.
- Reuters dan Associated Press (AP): Dua kantor berita ini, yang merupakan pemasok berita untuk banyak media di seluruh dunia, menyiarkan foto-foto dan video bentrokan. AP, khususnya, menampilkan galeri foto yang memperlihatkan intensitas konfrontasi di ibu kota, yang secara visual menunjukkan betapa seriusnya situasi tersebut.
Laporan-laporan ini tidak hanya bersifat naratif, tetapi juga analitis. Mereka mengaitkan protes ini dengan ketidakpastian seputar kesehatan ekonomi Indonesia, di mana meskipun inflasi relatif moderat, harga kebutuhan pokok tetap tinggi dan memicu ketidakpuasan. Isu tunjangan DPR menjadi simbol dari ketidakpekaan elite politik terhadap penderitaan rakyat biasa.
Implikasi dan Dampak Jangka Panjang
Demonstrasi yang terjadi pada Agustus 2025 ini, yang memuncak dengan kematian Affan Kurniawan, memiliki implikasi yang luas dan mendalam. Bagi pemerintah, ini adalah peringatan keras bahwa kemarahan publik tidak bisa diremehkan. Presiden Prabowo Subianto sendiri dilaporkan kecewa dengan tindakan berlebihan petugas keamanan dan menjanjikan tindakan tegas terhadap aparat yang bersalah. Hal ini menunjukkan bahwa isu ini bukan hanya masalah internal, melainkan juga telah menjadi sorotan internasional yang memerlukan respons serius.
Di sisi lain, bagi masyarakat, peristiwa ini menjadi pengingat akan kekuatan suara kolektif. Kematian Affan, meskipun tragis, berhasil menyatukan berbagai elemen masyarakat—dari mahasiswa, buruh, hingga pengemudi ojek online—dalam satu tuntutan yang sama: keadilan dan reformasi. Demonstrasi ini juga menunjukkan bahwa isu-isu ekonomi, seperti upah dan tunjangan, bisa dengan cepat beralih menjadi isu politik yang besar.
Media asing memainkan peran penting dalam menyebarkan informasi ini ke seluruh dunia. Mereka menjadi "mata" bagi publik global, memastikan bahwa suara rakyat Indonesia yang berjuang untuk keadilan tidak terisolasi. Laporan-laporan ini juga memberikan tekanan tambahan pada pemerintah Indonesia untuk bertindak transparan dan akuntabel. Dengan demikian, peristiwa ini tidak hanya tercatat sebagai sejarah di dalam negeri, tetapi juga menjadi bagian dari berita global yang menunjukkan dinamika politik dan sosial di salah satu negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara.
- Ketahui lebih lanjut sorotan BBC, Al Jazeera, dan The New York Times, serta tragedi kematian seorang pengemudi ojol yang menjadi pemicu kemarahan publik."
- "Bagaimana dunia melihat demo Jakarta? Simak analisis tentang sorotan media internasional terhadap unjuk rasa yang menuntut pembatalan tunjangan DPR dan keadilan atas kematian Affan Kurniawan."
- "Peristiwa demo di Jakarta bulan Agustus 2025 mendapat liputan luas dari media asing. Baca selengkapnya tentang penyebab, kronologi, dan implikasi global dari protes yang mengguncang ibu kota ini."
Kesimpulan: Suara Rakyat yang Terdengar Hingga ke Mancanegara
Peristiwa demonstrasi di Jakarta pada Agustus 2025 adalah cerminan dari tuntutan rakyat dan kebijakan pemerintah. Tunjangan anggota DPR yang fantastis di tengah kesulitan ekonomi menjadi pemicu, namun kemarahan publik semakin memuncak karena insiden tragis yang merenggut nyawa seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan. Kisah ini tidak hanya menjadi berita di dalam negeri, tetapi juga menarik perhatian media-media internasional terkemuka, dari Al Jazeera, BBC, hingga The New York Times. Mereka menyoroti isu ini sebagai cerminan dari ketidakstabilan sosial dan politik, serta sebagai pengingat akan pentingnya keadilan dan akuntabilitas bagi para pemimpin. Pada akhirnya, suara rakyat Indonesia berhasil menggema hingga ke mancanegara, membuktikan bahwa perjuangan untuk keadilan tidak mengenal batas geografis.
Referensi
Artikel ini disusun berdasarkan laporan dan analisis dari berbagai sumber berita, baik lokal maupun internasional, yang memberitakan peristiwa demonstrasi di Jakarta pada bulan Agustus 2025. Sumber-sumber yang digunakan termasuk, namun tidak terbatas pada, IDN Times, CNN Indonesia, CNBC Indonesia, Kompas.com, The Guardian, dan Jakarta Globe.
Posting Komentar