Rumah Uya Kuya Digeruduk Massa: Kronologi Mencekam, Harta Dijarah, hingga Kucing Puluhan Juta Ikut Raib
Siapa yang tidak kenal Uya Kuya? Sosoknya yang kocak dan penuh kontroversi sudah wara-wiri di dunia hiburan tanah air sejak lama. Namun, baru-baru ini namanya kembali menjadi sorotan, bukan karena gimik atau acara reality show, melainkan karena kejadian yang mengejutkan dan mengerikan. Rumahnya di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, tiba-tiba saja didatangi oleh sekelompok massa pada Sabtu malam, 30 Agustus 2025.
Kejadian ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Pagar rumah dijebol, kaca jendela pecah, dan yang paling miris, sejumlah barang berharga bahkan kucing peliharaan Uya Kuya pun dilaporkan ikut dijarah. Insiden ini sontak menyulut perhatian publik dan menimbulkan banyak pertanyaan: Ada apa sebenarnya? Kenapa Uya Kuya menjadi sasaran amarah massa? Dan apa pemicu utama di balik semua kericuhan ini?
1. Pemicu Kericuhan: Video Joget yang Menyulut Amarah Rakyat
Semua bermula dari sebuah video yang viral di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat Uya Kuya bersama beberapa anggota DPR RI lainnya, termasuk Eko Patrio dan Nafa Urbach, berjoget ria di Sidang Tahunan MPR RI. Video ini sebenarnya diambil pada 15 Agustus 2025, namun baru viral belakangan ini.
Meski mungkin niatnya hanya untuk menghibur, video tersebut muncul di tengah-tengah situasi yang sangat sensitif. Rakyat sedang berduka. Demo besar-besaran terjadi di berbagai kota, menuntut keadilan atas tewasnya seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan. Affan tewas setelah terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob saat kericuhan demo di Jakarta.
Di saat masyarakat menuntut keadilan dan berduka atas tragedi tersebut, video joget anggota dewan ini dianggap sebagai bentuk "menari di atas penderitaan rakyat". Kemarahan publik pun meledak. Banyak warganet yang mengecam habis-habisan sikap para anggota dewan ini, menilai mereka tidak punya empati dan hati nurani.
2. Kronologi: Dari Kerumunan Hingga Penjarahan
a. Massa Mulai Menggeruduk Sekitar Pukul 22.00 WIB
Pada Sabtu malam, 30 Agustus 2025, sekitar pukul 22.00 WIB, puluhan orang yang belum teridentifikasi mulai berkumpul di depan rumah Uya Kuya di Duren Sawit, Jakarta Timur. Suasana tegang langsung terasa. Hal yang paling mencolok sejak awal adalah tidak adanya satu pun aparat kepolisian yang berjaga di lokasi. Kekosongan ini seolah menjadi "lampu hijau" bagi massa untuk berani melangkah lebih jauh.
b. Detik-detik Pagar Dijebol dan Massa Merangsek Masuk

Tak butuh waktu lama. Dengan teriakan provokatif, massa mulai menggoyang-goyang pagar rumah bercat putih itu. Sebuah video amatir yang merekam momen mencekam ini menunjukkan bagaimana massa berteriak, “Masukin-masukin, bongkar-bongkar!” Pagar yang seharusnya kokoh akhirnya roboh di bawah kekuatan kolektif massa yang penuh amarah.
Begitu berhasil masuk, amuk massa tak terbendung lagi. Gelombang pertama langsung merusak bagian depan rumah. Beberapa kaca jendela pecah, menjadi penanda dimulainya aksi perusakan. Setelah itu, penjarahan dimulai. Massa dengan leluasa masuk ke dalam dan mulai mengangkut barang-barang dari lantai dasar.
c. Eskalasi ke Lantai Dua dan Penjarahan Harta Benda
Merasa tidak ada perlawanan, massa semakin beringas. Mereka bergerak naik ke lantai dua, melanjutkan aksi penjarahan di area yang lebih pribadi. Beberapa media melaporkan, massa menjarah televisi, dispenser, hingga kucing peliharaan Uya Kuya yang harganya ditaksir puluhan juta rupiah. Kondisi di dalam rumah digambarkan sangat kacau, dengan barang-barang yang berserakan dan rusak.
3. Sikap Uya Kuya dan Dampak yang Luas
Pasca insiden yang merusak itu, Uya Kuya langsung menyampaikan permohonan maafnya melalui video yang diunggah di media sosial. Ia mengaku ikhlas atas musibah yang dialaminya, meski sangat menyesalkan adanya video-video hoaks yang ikut memperkeruh suasana. Dalam pernyataannya, ia berjanji akan lebih berhati-hati dalam bersikap dan berharap kejadian ini menjadi introspeksi besar baginya dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.
Namun, insiden ini bukan hanya menimpa Uya Kuya. Rumah anggota dewan lain yang juga viral dalam video joget tersebut, seperti Ahmad Sahroni dan Eko Patrio, juga menjadi sasaran amuk massa. Bahkan, beberapa laporan menyebutkan rumah Eko Patrio juga mengalami kerusakan parah dan penjarahan.
Aksi massa ini menunjukkan betapa sensitifnya situasi politik dan sosial di Indonesia. Kemarahan publik yang menumpuk, ditambah dengan rasa ketidakadilan atas tragedi yang menimpa rakyat kecil, bisa meledak kapan saja. Insiden ini menjadi pengingat keras bagi para pejabat publik, bahwa setiap tindakan dan perkataan mereka diawasi dan memiliki konsekuensi.
4. Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?
Ada beberapa faktor yang diduga kuat menjadi penyebab utama dari amuk massa ini:
- Rasa Tidak Adil dan Ketidakpercayaan: Kematian tragis pengemudi ojol, Affan Kurniawan, memicu duka dan amarah yang meluas. Masyarakat merasa nyawa rakyat kecil tidak dihargai, dan ketika para pejabat terlihat santai dan berjoget, rasa ketidakadilan itu semakin memuncak.
- Kurangnya Empati Pejabat: Video joget para anggota dewan ini dianggap sebagai cerminan kurangnya empati dan kepedulian mereka terhadap penderitaan rakyat. Di saat rakyat berduka, mereka justru terlihat bersenang-senang.
- Komunikasi yang Buruk: Meskipun Uya Kuya dan beberapa anggota dewan lain sudah meminta maaf, hal itu dianggap terlambat. Kemarahan publik sudah terlanjur membesar.
- Adanya Provokasi dan Aksi Anarkis: Sayangnya, unjuk rasa yang seharusnya damai dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk melakukan tindakan anarkis, seperti perusakan dan penjarahan. Hal ini merusak tujuan mulia dari sebuah demonstrasi.
Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, terutama bagi para wakil rakyat, untuk lebih peka dan bijak dalam bersikap. Karena, kepercayaan rakyat adalah modal utama yang harus dijaga.
Posting Komentar